Belajar Berpikir Kritis dari Gita Savitri Devi

Kita tahu bahwa tidak semua orang mampu berpikir kritis. Tapi, bukan berarti selamanya orang tersebut tidak bisa berpikir kritis. Setiap hari kita dihadapkan dengan isu-isu, narasi-narasi, atau permasalahan-permasalahan yang berbeda. Ada masalah yang sangat susah untuk kita atasi, ada masalah yang mudah. Ada isu yang sangat berpengaruh pada diri kita, tapi ada juga yang tidak. Selain itu, masalah-masalah atau isu-isu ini ada yang bersifat abu-abu. Di sinilah kemampuan critical thinking seseorang dibutuhkan dan bisa dikembangkan.

Kemampuan critical thinking ini masuk dalam 21st century skills. 21st century skills atau kemampuan abad 21 ini merupakan berbagai soft skills yang hadir untuk menjawab tantangan yang ada di abad 21. Kumpulan kemampuan yang ada di abad 21 akan menyesuaikan dengan tantangan yang ada di zaman ini. Kemampuan abad 21 yang lain ini di antaranya ada creativity, collaboration, communication, leadership dan lain-lain.

Salah satu core atau poin utama dari critical thinking ini ada curiosity. Seseorang yang tadinya bingung terhadap suatu hal bisa jadi paham dan mengerti jika memiliki kemampuan critical thinking. Tapi terkadang, dalam keseharian kita, kalau terlalu banyak tanya akan dianggap negatif, dianggap ribet, sok tahu, atau sok pintar. Padahal orang yang banyak tanya itu karena dia tidak tahu atau tidak pintar. Dengan cara bertanya itulah dia bisa mendapatkan jawaban dan punya informasi lebih.

Akhirnya banyak orang yang inherted opinion. Maksudnya, kita percaya sesuatu hanya karena orang lain memberitahukannya kepada kita. Memang, percaya terhadap sesuatu yang positif dan berasal dari orang-orang atau tempat-tempat yang baik itu tidak ada salahnya, cuma kita juga perlu yang namanya kemerdekaan berpikir.

Ada baiknya kita melakukan observasi dan identifikasi isu-isu yang kita hadapi. Sering di kalangan masyarakat ketika mendapat suatu ketentuan, misal, mereka hanya melakukan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Padahal, sebelum memegang suatu nilai atau kepercayaan, cobalah untuk melakukan analisis supaya apa yang kita lakukan menjadi jelas. Hal ini kurang lebih disebut sebagai reflective thinking. Ada pendapat menarik tentang reflective thinking ini.

Reflective thinking, on the other hand, is a part of the critical thinking process referring specifically to the processes of analyzing and making judgments about what has happened.” -John Dewey

Berpikir kritis adalah proses!

✔ identifikasi

✔ observasi

✔ analisis

✔ evaluasi

✔ refleksi

✔ inferensi

Untuk dapat berpikir kritis ini, kita harus gathering information semaksimal mungkin dan jangan cuma menerima informasi mentah-mentah. Critical thinking bukan hanya sekadar setuju atau tidak setuju, melainkan memahami dan mempertimbangkan semua nuance.

Alasan kenapa kita butuh berpikir kritis

  1. Kebebasan dalam berpikir dan punya keyakinan 100 % atas keputusan kita sendiri
  2. Percaya diri dengan opini dan pemikiran diri yang objektif karena kita sudah mencoba mereduksi bias yang kita miliki
  3. Bisa menjadi lebih open minded karena kita aware akan argumen atau ide lain yang bisa juga tidak sama dengan kita
  4. Memahami nuance atau comprehending dapat meningkatkan functional literacy
  5. Kemampuan seseorang untuk fully understand 
  6. Terhindar dari manipulasi seperti penipuan, dsb.

Bagaimana cara berpikir kritis?

  1. Berpikir objektif dan seadil mungkin terhadap suatu topik atau isu

carilah faktor apa saja yang berhubungan dengan isu yang sedang kita hadapi. Selain itu, kita juga harus sadar akan ada personal preference dan bias dengan cara mengidentifikasi kira-kira ada argumen apa yang bermunculan. Kita harus banyak mencari informasi lebih.

  1. Evaluasi argumen lagi untuk menentukan valid atau tidaknya argumen yang akan kita lontarkan. Kita bisa mencari apakah ada paradoks dari sudut pandang kita tadi. Perlu diperhatikan juga efek dan implikasi dari argumen kita.
  2. Latihan dengan cara rutin menulis. Dengan cara ini bisa membantu otak kita berpikir secara sistematis.

Source: www.hawaii.edu

Leave a Comment